Jadi begini ...
Ibarat hidupku ke belakang dulu seperti burung di sangkar emas. Aku mendapatkan kasih sayang yang sempurna dari laki-laki yang tentunya aku puja. Namun siapa sangka, namanya di sangkar tentu tidak pernah bagus. Aku harus hidup terkungkung dalam kotak persegi yang berjeruji. Setiap hari aku hanya merasakan satu cinta, satu rasa, yaitu kamu. Sedangkan yang lain hanya bisa memandangku dari tiang-tiang berkilauan disekelilingku. Yes, it hurt of course.
Sebentar ...
Lalu bagaimanakah hidupku sekarang?
Bisa dikategorikan bagus. Bisa dikategorikan tidak. Tiba-tiba, sebuah masalah membuka pintu yang digembok rapat oleh dirinya. Lalu masalah itu mengajakku lari bersama mengarungi jalan setapak, sungai dangkal, dan hutan yang tidak berujung. Sedangkan dia hanya mampu melihatku begitu saja dengan tetesan air mata yang tidak pernah aku lihat. Sejak itu aku barulah mengerti. Dia memang tulus mencintaiku. Hanya saja, caranya salah.
Bagian manakah jeleknya?
Seharusnya, aku bebas. Tidak berlari dengan masalah. Seharusnya aku sudah meninggi. Tidak diambang antara terbang dan tidak. Lalu, saat itu, masalah mengajakku bertengger di dahan. Apa yang terjadi? Dia membuatkanku sebuah rumah. Rumah yang tidak bisa aku tinggalkan. Tuhan. Ternyata masalah adalah kata lain dari dirinya yang kedua.
Begitulah ...

